loading...
Aku tidak
menyangka bahwa saat ini aku sedang berada di rumah Rere– duduk berhadapan
dengannya pula. Kenapa aku bisa segugup ini padahal di sampingku ada Rasel dan
di samping Rere ada Zufar. Well, kalau
sewaktu-waktu Rere akan mencakarku, aku akan langsung bersembunyi di belakang
punggung Rasel.
“Oke guys. Kerja kelompok kali ini gue bakal
kasih kalian tugas masing-masing. Rasel, lo bagian ngegambar pulau Sumatera.
Zufar, lo bagian gambar pulau Jawa. Gue ambil pulau Sulawesi. Dan terakhir
Alicia, lo sisanya.” Pembukaan kerja kelompok kali ini diawali dengan pembagian
gambar pulau yang ditentukan oleh Rere–tanpa ada persetujuan dariku, Rasel
maupun Zufar.
“Loh?! Kok
Alis kebagian banyak sih?!” Rasel menggebrak meja sambil menatap Rere tajam.
“Kalau lo mau
ambil bagian Alicia, silahkan. Dan tolong jaga attitude.”
Kulihat Rasel
menahan emosinya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ya ampun Rasel, makasih
udah sempat-sempatnya membelaku yang lemah ini huhu..
“Pasti kalian
haus ya? Gue ambilin minum bentar.”
Saat Rere
hendak berdiri, kulihat Zufar tampak menahannya lalu Rere memberinya senyuman
dan kedipan. Setelah itu, Zufar melepas genggaman tangannya.
*****
Rere memasuki
kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia merogoh saku dan
mengeluarkan ponselnya. Rere langsung tersenyum begitu melihat nama seseorang
tertera di layar ponsel.
Rere membuka
dan membaca sebuah pesan line dari
orang tersebut.
‘Kapan putus sama Farkhan?Ini udah 2 bulan.’
*****
Entah kenapa
hari ini aku sangat malas untuk bersekolah.
Kalau bukan karena sebentar lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional atau UN,
aku akan memberi alasan sakit kepada wali kelasku supaya aku tidak usah
repot-repot datang ke sekolah hehe.
Ketika hendak
sampai kelas, tiba-tiba saja aku mendengar suara seorang cewek tengah terisak.
Aku bersembunyi di balik pintu untuk memastikan apa yang telah terjadi.
“Gue gak
nyangka ya ternyata selama ini gue cuma korban permainan konyol lo sama saudara
lo itu. Gue ini manusia, Re. Gue punya hati.”
Rere dan
Farkhan! Hah?! Kenapa mereka?!
“Gue gak suka
basa basi. Kita putus.”
Kulihat
Farkhan tengah berjalan ke arahku–lebih tepatnya ke arah pintu. Buru-buru aku
berlari meninggalkan kelas. Kalau ketahuan kan berabe.
Rere sama Farkhan putus?!
*****
Saat
pelajaran pertama berlangsung, aku tidak melihat Farkhan berada di dalam kelas.
Kulihat Rere juga ketahuan sering melamun ketika guru bertanya padanya.
Sebenarnya aku ingin bertanya langsung kepada mereka, tapi urusanku apa coba?
Nanti malah ketahuan kalau aku naksir sama Farkhan.
“Jajan yuk,
Al.”
Aku menoleh
pada Rasel yang tiba-tiba saja sudah duduk di sabelahku. Ia menaik-turunkan
alisnya sambil tersenyum jenaka.
“Lagi lamunin
apa hayooo?”
“Apa sih,
Sel.”
Ia
mendekatkan wajahnya.“Farkhan ya? Gue udah tahu semuanya.”
“Hah?!”
“Makanya, ayo
jajan!”
Tanpa
mendapat persetujuan, Rasel sudah menarikku ke kantin.
*****
Aku menopang
dagu dengan malas sambil memperhatikan Rasel yang sibuk mengunyah makanannya.
Kalau bukan karena Farkhan, sebenarnya aku tidak usah repot-repot menemani
Rasel di sini. Toh, biasanya jika aku sedang badmood atau sedang tidak nafsu makan, Rasel biasa jajan sendiri.
“Cepetan
cerita.”
Rasel
berhenti mengunyah makanannya lalu menatapku sambil tersenyum. “Kepo banget
yaaa?”
Aku mendengus
kesal. “Iyalah! Buruan ceritaaa..”
“Jadi
begini..”
Kalimat-kalimat
selanjutnya yang diucapkan Rasel, berhasil membuatku terkejut dan tidak percaya
dengan apa yang telah terjadi pada hubungan Rere dan Farkhan–yang kuketahui
hubungan mereka selalu adem.
Aku menjilati
bibirku yang terasa kering, well karena
aku belum sarapan sejak tadi pagi, dan di sini–di kantin, tiba-tiba saja aku
tidak nafsu makan. Sedikit agak kelaparan sih, tapi aku sudah terbiasa dengan
ini.
“Tahu gak,
Al?”
“Hm?”
“Gue udah
jadian sama Rendi.”
*****
Aku
terbengong-bengong di mejaku sambil mengingat beberapa kejadian yang sudah
kualami sejak dari pagi tadi.
Farkhan dan
Rere putus.
Penyebab
mereka putus adalah karena saudaranya Rere sendiri.
Zufar, Rendi
dan Farkhan sedang berantem.
Rasel jadian.
Haa.. kenapa
hari ini begitu aneh? Apa karena besok Farkhan ulangtahun? Hah?! Oh iya.. besok si Farkhan ulangtahun...
Kulihat ke
belakang–ke meja Farkhan–terlihat Farkhan tengah tertidur di mejanya. Aku
menatapnya iba. Kalau saja tidak ada permainan
konyol antara Rere dan saudaranya–tidak pasti juga–semua ini akan baik-baik
saja.
*****
Saat pulang
sekolah tadi, entah aku yang terlalu banyak berkhayal atau mungkin terlalu
banyak bermimpi, tiba-tiba saja Farkhan mengajakku untuk pulang bersama. Senang
memang, tapi aku menolaknya. Kenapa? Aku tahu cuma bahan pelampiasan Farkhan.
Mana ada orang habis putus langsung jalan sama cewek lain? Benar-benar cuma
pelampiasan. Tapi kenapa harus aku?!
Aku
mengusap-usap wajahku. Drama Korea yang sedang kutonton pun tidak ada
efeknya–efek baper biasanya, pikiranku masih melayang pada kejadian aneh hari
ini. ****************************to be continued*******************************
loading...
0 Response to "NOVEL: 3 DAYS Karya Aisyah Fazriah Part 7"
Post a Comment